Kamis, 02 Mei 2013

Psikologi Belajar MASALAH KESULITAN BELAJAR


BAB. I   PENDAHULUAN
A.  Lantar Belakang
Masalah adalah ketidaksesuaian antara harapan dengan kenyataan, ada yang melihat sebagai tidak terpenuhinya kebutuhan seseorang, dan adapula yang mengartikannya sebagai suatu hal yang tidak mengenakkan. Pengertian belajar dapat didefinisikan sebagai sesuatu proses yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.
Dalam proses pembelajaran di sekolah, sering ditemukan beberapa siswa yang mengalami hambatan belajar, sulit meraih prestasi di sekolah, padahal telah mengikuti pelajaran dengan sungguh-sungguh. Bahkan ditambah belajar tambahan di rumah, tapi hasilnya tetap kurang memuaskan. Sehingga siswa terkesan lambat melakukan tugas yang berhubungan dengan kegiatan belajar. Akibatnya, banyak siswa yang kesulitan belajar siswa yang mengalami kesulitan belajar akan membuat dalam proses belajar mengajar tidak mencapai ketuntasan belajar.
Fenomena kesulitan belajar yang dialami siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya prestasi akademik atau prestasi belajarnya. Selain prestasi akademik, kesulitan belajar juga dapat dilihat dari perilakunya, diantarnya seperti pemalas, mudah putus asa dan lain sebagainya. Ada dua sumber utama yang menyebabkan siswa mengalami kesulitan belajar, yaitu berasal dari dirinya sendiri dan dari luar diri siswa. Dari dalam diri siswa bisa berupa gangguan otak,gangguan panca indra, cacat fisik dan gangguan psikis. Sedangkan penyebab dari luar siswa berupa keadaan keluarga, sarana dan prasarana sekolah, dan kondisi sosial masyarakat.

B.  Permasalahan
1.             Apa yang dimaksud dari kesulitan belajar.
2.             Apa saja penyebab kesulitan belajar.
3.             Bagaimana cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar.
4.             Usaha apa yang harus dilakukan untuk mengatasi kesulitan belajat.
C.     Tujuan Dan Kegunaan Penulisan
1.    Tujuan Penulisan
a.              Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan kesulitan belajar.
b.             Untuk mengetahui apa saja penyebab dari kesulitan belajar.
c.              Untuk mengetahui cara mengenal anak didik yang mengalami kesulitan belajar.
d.             Dan untuk mengetahui usaha apa saja untuk mengatasi kesulitan belajar.
2.    Kegunaan penulisan
a.              Diharapkan dapat memberikan kontribusi penulisan khususnya dalam mengatasi problematika anak didik.
b.             Untuk melengkapi persyaratan dalam menyelesaikan studi di Fakultas Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Rengat TA. 2013/2014.







BAB. II   PEMBAHASAN


A.  Pengertian kesulitan belajar
Setiap anak didik datang ke sekolah agar menjadi orang berilmu pengetahuan,  sebagaian besar waktu yang tersedia harus digunakan oleh anak untuk belajar, tidak mesti di sekolah, di rumah pun harus ada waktu yang disediakan untuk kepentingan belajar. Namun, sayangnya hambatan dan gangguan dialami oleh anak didik tertentu. Sehingga mereka mengalami kesulitan dalam belajar.
Pada tingkat tertentu memang ada anak didik yang dapat mengatasi kesulitan belajarnya, karena anak didik belum mampu mengatasi kesulitan belajarnya, maka bantuan guru atau orang lain sangat diperlukan oleh anak didik.
Dalam setiap bulan atau bahkan dalam setiap minggu tidak jarang ditemukan anak didik yang kesulitan belajar. Walaupun sebenarnya masalah yang menggangu keberhasilan belajar anak didik ini  sangat tidak disenangi oleh guru dan bahkan oleh anak didik itu sendiri.
Suatu pendapat yang keliru dengan mengatakan bahwa kesulitan belajar anak didik disebabkan rendahnya inteligensi. Karena pada kenyataannya cukup banyak anak didik yang memiliki intelegensi tinggi, namun hasil belajarnya rendah. Begitu pula sebaliknya. Selain faktor intelegensi, faktor non-intelegensi dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar bagi anak didik.
 Kesulitan belajar yang dirasakan oleh anak didik dapat dikelompokkan menjadi 4 macam, yaitu sebagai berikut:
1.    Dilihat dari jenis kesulitan belajar.
| Ada yang berat;
| Ada yang ringan.
2.    Dilihat dari mata pelajaran yang dipelajari.
| Ada yang sebagian mata pelajaran;
| Ada yang sifatnya sementara.
3.    Dilihat dari sifat kesulitannya.
| Ada yang sifatnya menetap;
| Ada yang sifatnya sementara.
4.    Dilihat dari segi faktor penyebabnya.
|  Ada yang karena faktor inteligensi;
|  Ada yang karena faktor non-inteligensi.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kesulitan belajar adalah suatu kondisi di mana anak didik tidak dapat belajar secara wajar, disebabkan adanya ancaman, hambatan ataupun gangguan dalam belajar.
B.  Beberapa penyebab kesulitan belajar
Menurut Muhibbin Syah, meninjau dari sudut internal anak didik dan ekternal anak didik, yakni sebagai berikut:
1.    Bersifat kognitif : rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi.
2.    Bersifat afektif : labilnya emosi dan sikap.
3.    Bersifat psikomotor : terganggungnya alat-alat indra penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga).
Sedangkan faktor ekternal anak didik meliputi kondisi lingkungan sekitar. Faktor lingkungan ini meliputi:
1.         Lingkungan keluarga.
 Contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
2.         Lingkungan masyarakat.
Contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area) dan teman sepermainan (peer group) yang nakal.
3.         Lingkungan sekolah.
 Contohnya: kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Adapun faktor-faktor lain yang menimbulkan kesulitan belajar anak didik yang bersifat khusus. Misalnya Sindrome psikologi berupa learning disability (ketidakmampuan belajar), sindrom ini contohnya:
a.    disleksia (dyslexia), yaitu ketidakmampuan belajar membaca.
b.    Disgrafia (dysgraphia), yaitu ketidakmampuan belajar menulis.
c.    Diskalkulia (dyscalculia), yaitu ketidakmampuan belajar matematika.
Anak didik yang memiliki sindrom-sindrom di atas secara umum sebenarnya memiliki IQ yang normal dan bahkan diantaranya ada yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata. Oleh karenanya kesulitan belajar anak tersebut disebabkan adanya gangguan ringan pada otak (minimal) brain dysfunction. (Muhibbin Syah, 1999: 165)

Jika sudut pandang diarahkan pada aspek lainnya, maka faktor-faktor penyebab kesulitan belajar anak didik dapat dibagi menjadi 4 (empat) yaitu:
1.    Faktor anak didik
Anak didik adalah subjek yang belajar. Kesulitan belajar yang diderita anak didik tidak hanya yang bersifat menetap, tetapi juga yang bisa di hilangkan dengan usaha tertentu.
Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab kesulitan belajar anak didik:
a.    Inteligensi (IQ) yang kurang baik.
b.    Bakat yang kurang atau tidak sesuai dengan bahan pelajaran yang dipelajari atau yang diberikan oleh guru.
c.    Faktor emosional yang kurang stabil.
d.   Aktivitas belajar yang kurang.
e.    Penyesuaian sosial yang sulit.
f.     Lantar belakang pengalaman yang pahit.
g.    Cita-cita yang tidak relevan.
h.    Latar belakang pendidikan dengan sistem sosial dan kegiatan belajar mengajar di kelas yang kurang baik.
i.      Lama belajar yang tidak sesuai dengan tuntutan waktu belajarnya.
j.      Keadaan fisik yang kurang menunjang.
k.    Kesehatan yang kurang baik.
l.      Seks atau pernikahan yang tak terkendali.
m.  Pengetahuan dan keterampilan dasar yang kurang memadai atas bahan yang dipelajari.
n.    Tidak ada motivasi belajar.

2.    Faktor sekolah
Sekolah adalah lembaga pendidikan formal tempat pengabdian guru dan rumah rehabilitasi anak didik. Sekolah ikut terlibat menimbulkan kesulitan belajar bagi anak didik. Faktor-faktor dari lingkungan sekolah yang dapat menimbulkan kesulitan belajar bagi anak didik adalah sebagai berikut:
a.    guru dengan anak didik kurang harmonis.
b.    Guru menuntut standar pelajaran di atas kemampuan anak.
c.    Guru tidak memiliki kecakapan dalam usaha mendiagnosis kesulitan belajar anak didik.
d.   Cara guru mengajar kurang baik.
e.    Alat media yang kurang baik.
f.     Perpustakaan sekolah kurang memadai.
g.    Suasana sekolah yang kurang menyenangkan.
h.    Bimbingan dan penyuluhan yang tidak berfungsi.
i.      Kepemimpinan dan administrasi yang kurang menunjang.
j.      Waktu sekolah dan disiplin yang kurang.
3.    Faktor keluarga
Keluarga adalah lembaga pendidikan informal (luar sekolah) yang diakui keberadaannya dalam dunia pendidikan. Oleh karena itu, ada beberapa faktor dalam keluarga yang mennjadi penyebab kesulitan belajar anak didik sebagai berikut:
a.    Kurangnya kelengkapan alat-alat belajar bagi anak di rumah.
b.    Kurangnya biaya pendidikan yang disediakan orang tua.
c.    Anak tidak mempunyai ruang dan tempat belajar yang khusus.
d.   Ekonomi keluarga yang lemah atau tinggi yang membuat anak berlebih-lebihan.
e.    Kesehatan keluarga yang kurang baik.
f.     Perhatian orang tua yang tidak memadai.
g.    Kebiasaan dalam keluarga yang tidak menunjang.
h.    Kedudukan anak dalam keluarga yang menyedihkan.
i.      Anak terlalu banyak membantu orang tua.
4.    Faktor masyarakat sekitar
Jika keluarga adalah komunitas masyarakat terkecil, maka masyarakat adalah komunitas masyarakat kehidupan sosial yang tersebar. Dalam masyarakat terpatri strata sosial yang merupakan penjelmaan dari suku, ras, agama, antar golongan, pendidikan, jabatan, status, dan sebagainya. Pergaulan yang terkadang kurang bersahabat sering memicu konflik sosial. Keributan, pertengkaran, pembunuhan, perjudian, perampokan, gossip dan perilaku jahiliyah lainya sudah menjadi santapan sehari-hari dalam masyarakat. Ketergantungan pada obat terlarang membuat anak didik pasrah pada nasib. Anak didik tidak bisa lagi dididik karena pengaruh obat terlarang. Keributan lingkungan sekitar berpotensi memecahkan konsentrasi anak didik dalam belajar. Akhirnya anak didik tidak betah belajar karena sulit membangkitkan daya konsentrasi.
Kesulitan belajar bagi anak didik juga bersumber dari media cetak dan media elektronik. (Sarwono, 1981:28). Anak didik sering berkhayal tentang kenikmatan seks.
Kelompok gengster yang menjadi teman anak didik di masyarakat dapat mempersulit dalam belajar. Gengster adalah manusia kanibalisme yang wajib dijauhi oleh anak didik.
C.  Cara Mengenal Anak Didik yang Mengalami Kesulitan Belajar
Beberapa gejala sebagai pentujuk adanya kesulitan belajar anak didik dapat dilihat sebagai berikut.
1.    Menunjukan prestasi belajar yang rendah
2.    Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan.
3.    Anak didik lambat dalam mengerjakan tugas-tugas belajar.
4.    Anak didik menunjukan sikap yang kurang wajar.
5.    Anak didik menunjukan tingkah laku yang tidak biasanya.
6.    Anak didik yang tergolong memiliki IQ, tetapi kenyataanya mereka mendapatkan prestasi belajar yang rendah.
7.    Anak didik yang selalu menunjukan prestasi belajar yang tinggi untuk sebagian mata pelajaran, tetapi dilain waktu prestasi belajarnya menurun.
Dari semua gejala kesulitan belajar dengan cara lain yaitu melakukan penyelidikan dengan cara:
a.    Obervasi
Observasi merupakan suatu cara memperoleh data dengan langsung mengamati terhadap objek.
b.    Interview
Interview merupakan suatu cara mendapatkan data dengan wawancara lansung terhadap orang yang diselidiki atau terhadap orang lain (guru, orang tua, atau teman akrab) yang dapat memberikan informasi tentang orang yang diselidiki.
c.    Dokumentasi
Dokumentasi merupakan suatu cara untuk mengetahui sesuatu dengan melihat catatan-catatan, arsip-arsip, dokumen-dokumen, yang berhubungan dengan orang yang diselidiki.
Di antara dokumen anak didik yang perlu dicari adalah berhubungan dengan:
|  Riwayat hidup anak didik.
|  Prestasi anak didik.
|  Kumpulan ulangan.
|  Catatan kesehatan anak didik.
|  Buku rapor anak didik.
|  Buku pribadi anak didik.
|  Buku catatan untuk semua mata pelajaran, dan sebagainya.
d.   Tes Diagnostik
Tes ini dimaksudkan untuk mengetahui kesulitan belajar yang dialami anak didik berdasarkan hasil tes formatif sebelumnya.
D.  Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
Secara garis besar, lankah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka usaha mengatasi kesulitan belajar anak didik, dapat dilakukan melalui 6 (tahap) yaitu:
1.    Pengumpulan Data
Usaha yang dapat dilakukan dalam usaha pengumpulkan data melalui kegiatan sebagai berikut:
a.    Kunjungan rumah.
b.    Case study dan case history.
c.    Daftar pribadi.
d.   Meneliti pekerjaan anak.
e.    Meneliti tugas kelompok.
f.     Melaksanakan tes, baik IQ maupun tes prestasi.
2.    Pengolahan Data
Data yang telah terkumpul tidak akan ada artinya jika tidak diolah secara cermat. Langkah yang dapat ditempuh dalam rangka pengolahan data adalah sebagai berikut:
a.    Identifikasi kasus.
b.    Membandingkan antar kasus.
c.    Membandingkan dengan hasil tes.
d.   Menarik kesimpulan.
3.    Diagnosis
Diagnosis merupakan keputusan  (penentuan) mengenai hasil dari pengolahan data. Diagnosis dapat berupa hal-hal sebagai berikut:
a.    Keputusan mengenai jenis kesulitan belajar anak didik yaitu berat dan ringannya tingkat kesulitan yang dirasakan anak didik.
b.    Keputusan mengenai faktor-faktor yang ikut menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.
c.    Keputusan mengenai faktor utama yang menjadi sumber penyebab kesulitan belajar anak didik.
4.    Prognosis
Keputusan yang diambil berdasarkan hasil diagnosis menjadi dasar pijakan dalam kegiatan prognosis. Dalam prognosis dilakukan kegiatan penyusunan program dan penetapan ramalan mengenai bantuan yang harus diberikan kepada anak untuk membantunya keluar dari kesulitan belajar. Adapun pertanyaan yang harus diajukan menggunakan rumus 5W+1H.
5.    Treatment
Bentuk treatment yang mungkin dapat diberikan adalah:
a.    Melalui bimbingan belajar individual.
b.    Melalui bimbingan belajar kelompok.
c.    Melalui remedial teaching untuk mata pelajaran tertentu.
d.   Melalui bimbingan orang tua di rumah.
e.    Pemberian bimbingan pribadi untuk mengatasi masalah-masalah psikologis.
f.     Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik secara umum.
g.    Pemberian bimbingan mengenai cara belajar yang baik sesuai dengan karakteristik setiap mata pelajaran.
6.    Evaluasi
Evaluasi dimaksudkan untuk menegtahui apakah treatment yang telah diberikan berhasil dengan baik. Artinya ada kemajuan, yaitu anak dapat dibantu keluar dari lingkaran masalah kesulitan belajar atau gagal sama sekali.
Jika terjadi kegagalan treatment, langkah yang perlu ditempuh adalah Re-ceking (baik yang berhubungan dengan masalah pengumpulan maupun pengolahan data), Re-diagnosis, Re-prognosis, Re-treatment, Re-evaluasi.













BAB. III   PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pada dasarnya semua anak memiliki kemampuan, walaupun mungkin saja kemampuan yang dimiliki berbeda satu dengan yang lainnya. Pada tingkat pendidikan dasar berbagai kemampuan tersebut masih memiliki relasi yang kuat, membaca, menulis, serta berhitung. Masalah yang mungkin ada pada pada salah satu kemampuan tersebut dapat menggangu kemampuan yang lain.
Dengan demikian apa yang kita sering lakukan baik sebagai seorang orang tua, ataupun seorang guru dengan mengatakan seorang anak yang mendapatkan nilai yang rendah merupakan anak yang bodoh dan gagal perlu menjadi perhatian kita. Karena sebagaimana kita ketahui bahwa mungkin saja anak hanya mengalami gangguan pada salah satu kemampuan tadi, dan ia tidak tahu bagaimana mengatasi masalah tersebut.
Untuk itu, yang terpenting bagi kita adalah dapat menelaah dengan baik perkembangan anak kita. Diagnosis terhadap permasalahan sesungguhnya yang dialami anak mutlak harus dilakukan. Dengan demikian kita akan mengetahui kesulitan belajar apa yang dialami anak, sehingga kita dapat menentukan alternatif pilihan bantuan bagaimana mengatasi kesulitan tersebut.
B.     Saran
Kesulitan siswa dalam belajar merupakan suatu hal yang sering ditemui oleh para pendidik, terutama guru. Dalam hal ini pendidik dalam hal ini guru di sekolah dan orang tua di rumah dituntut untuk mengerti jenis masalah yang dihadapi oleh siswa atau anak. Dengan memahami jenis masalah, diharapkan pendidik mempu memberikan solusi penanggulangan sesuai dengan masalah yang bersangkutan.

DAFTAR PUSTAKA


Syah, Muhibbin. 2009. Psikologi Belajar. Jakarta: Rajawali Rers.

Tidak ada komentar: