Kamis, 02 Mei 2013

makalah istishab


BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Ilmu Ushul Fiqh adalah salah satu bidang ilmu keislaman yang penting, untuk lebih memahami syariat islam dari sumber aslinya, Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan belajar Ushul Fiqh kita dapat mengetahui kaidah-kaidah, prinsip-prinsip umum syariat islam, cara memahami suatu dalil dan penerapanya dalam kehidupan sehari-hari.
Maka dari itu kita harus memahami terlebih dahulu sumber dan dalil-dalil hukum islam, serta metode yang kita gunakan dalam mengkaji Ushul Fiqh. Hal-hal tersebut wajib kita ketahui sebagai langkah awal dalam memahami Ushul Fiqh, sehingga kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya sekedar teori dan wacana.
Berdasarkan kurikulum dosen pemandu yang memberi tugas kepada mahasiswa/i untuk membuat makalah maka kelompok kami mendapatkan tugas tentang urf dan istishab, semoga dengan adanya makalah kami ini dapat membantu mahasiswa/i memahami  istishab.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian istishab ?
2.      Jelaskan dasar-dasar hukum istishab ?
3.      Jelaskan macam-macam istishab ?
4.      Apa kehujjahan istishab ?
5.      Sebutkan dalil-dalil aplikasi istishab ?
6.      Bagaimana pendapat ahli ushul tentang istishab?
1.3  Tujuan Pembahasan
Berdasarkan masalah diatas maka tujuan ditulis makalah ini adalah untuk:
1.      Mengetahui pengertian istishab
2.      Mengetahui dasar-dasar hukum istishab
3.      Dapat menjelaskan macam-macam istishab
4.      Mengetahui kehujjahan istishab
5.      Mengetahui dalil-dalil aplikasi istishab
6.      Mengetahui bagaimana pendapat ahli ushul tentang istishab
1.4  Manfaat Pembahasan
1.      Mengetahui Pengertian Istishab
2.      Mengetahui dasar-dasar hukum istishab
3.      Mengetahui macam-macam istishab
4.      Mengetahui Kehujjahan Istishab
5.      Mengetahui dalil-dalil aplikasi istishab
6.      Mengetahui bagaimana pendapat ahli ushul tentang istishab

BAB II
PEMBAHASAN
   
 2.1 Pengertian Istishab
Istishab menurut bahasa Arab ialah: pengakuan adanya perhubungan. Sedangkan menurut para ahli ushul fiqh, ia adalah: Menetapkan hukum atas sesuatu berdasarkan keadaan sebelumnya, sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahan keadaan tersebut. Atau ia adalah menetapkan hukum yang telah tetap pada masa lalu dan masih tetap pada keadaannya itu, sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahannya.
Apabila seseorang mujtahid ditanyai tentang hukum sebuah perjanjian atau suatu pengelolaan, dan ia tidak menemukan nash dalam al qur’an atau sunnah, dan tidak pula menemukan dalil syar’i yang membicarakan hukumnya, maka ia memutuskan dengan kebolehan perjanjian atau pengelolaan tersebut berdasarkan atas kaidah :
“sesungguhnya asal mula dalam segala sesuatu adalah dibolehkan”
 Dan hal ini merupakan keadaan dimana Allah menciptakan sesuatu yang ada di bumi, seluruhnya. Oleh karena itu, sepanjang tidak ada dalil yang menunjukkan perubahannya, maka sesuatu itu tetap pada kebolehan yang asli.
Apabila seorang mujtahid ditanyai mengenai hukum suatu binatang, benda padat, tumbuh-tumbuhan, atau makanan apapun, atau minuman apa saja, atau suatu amal perbuatan dan ia tidak menemukan dalil syar’i atas hukumnya, maka ia menetapkan hukum dengan kebolehannya. Karena sesungguhnya kebolehan adalah asalnya , padahal tidak ada dalil yang menunjukkan terhadap perubahannya.
Sesungguhnya asal mula segala sesuatu itu boleh, karena Allah SWT. Telah berfirman dalam kitabnya yang mulia :
uqèd Ï%©!$# šYn=y{ Nä3s9 $¨B Îû ÇÚöF{$# $YèŠÏJy_  ÇËÒÈ  
“Dia lah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu...” (Al-Baqarah : 29)
Dari pengertian istishab di atas, dapat dipahami bahwa istishab itu ialah:
  1. Segala hukum yang telah ditetapkan pada masa lalu, dinyatakan tetap berlaku pada masa sekarang, kecuali kalau telah ada yang mengubsahnya.
  2. Segala hukum yang ada pada masa sekarang, tentu telah ditetapkan pada masa yang lalu.
Contoh Istishab:
Telah terjadi perkawinan antara laki-laki A dan perempuan B, kemudian mereka berpisah dan berada di tempat yang berjauhan selama 15 tahun. Karena telah lama berpisah itu maka B ingin kawin dengan laki-laki C. Dalam hal ini B belum dapat kawin dengan C karena ia telah terikat tali perkawinan dengan A dan belum ada perubahan hukum perkawinan mereka walaupun mereka telah lama berpisah. Berpegang ada hukum yang telah ditetapkan, yaitu tetap sahnya perkawinan antara A dan B, adalah hukum yang ditetapkan dengan istishab.
2.2 Dasar Hukum Istishab
Dari keterangan dan contoh diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sebenarnya istishab itu bukanlan cara menetapkan hukum, tetapi ia pada hakikatnya adalah menguatkan atau menyatakan tetap berlaku suatu hukum yang pernah ditetapkan karena tidak ada yang mengubah atau yang mengecualikan. Pernyataan ini sangat diperlukan untuk menjaga jangan sampai terjadi penetapan hukum yang berlawanan antara yang satu dengan yang lain. Karena itulah ulama Hanafiyah menyatakan bahwa sebenarnya istishab itu tidak lain hanyalah untuk mempertahankan hukum yang telah ada, bukan untuk menetapkan hukum yang baru. Istishab bukanlah merupakan dasar atau dalil untuk menetapkan hukum yang belum tetap, tetapi ia hanyalah menyatakan bahwa telah pernah ditetapkan suatu hukum dan belum ada yang mengubahnya. Jika demikian halnya istishab dapat dijadikan dasar hujjah.
2.3  Macam-macam Istishab
Muhammad Abu Zahroh membagi Istishhab menjadi 4 bagian :
1.      Istishab al-Bara`ah al-Ashliyyah
Dapat dipahami dengan contoh sebagai berikut :
Seperti tidak adanya kewajiban melaksanakan syari’at bagi manusia, sehingga ada dalil yang menunjukan dia wajib melaksanakan kewajiban tersebut,. Maka apabila dia masih kecil maka dalilnya adalah ketika dia sudah baligh.
Orang yang dituduh punya hutang, maka ia ditetapkan tidak punya hutang, berdasarkan kaidah bahwa pada asalnya ia bebas dari beban, sehingga terbukti ia berhutang. Karenanaya, kewajiban membuktikan berada dipihak penggugat atau penuduh.
2.      Ishtishab ma dalla asy-Syar’i au al-’Aqli ‘ala Wujudih
Bisa dipahami yaitu bahwa nash menetapkan suatu hukum dan akal pun membenarkan (menguatkan ) sehingga ada dalil yang menghilangkan hukum tersebut.
contoh :
Seperti dalam pernikahan bahwa pernikahan itu akan tetap sah ketika belum ada dalil yang menunjukan telah berpisah seperti dengan men-talaq.
3.      Istishab al-hukmi
Bisa dipahami apabila hukum itu menunjukan pada dua yaitu boleh atau dilarang, maka itu tetap di bolehkan sehingga ada dalil yang mengharamkan dari perkara yang diperbolehkan tersebut, begitu juga sebaliknya. Seperti dalam sebuah ayat Allah Swt, berfirman :
uqèd Ï%©!$# šYn=y{ Nä3s9 $¨B Îû ÇÚöF{$# $YèŠÏJy_  ÇËÒÈ  
” Dia-lah yang menjadikan segala yang ada dibumi untuk kamu…” ( QS. 02:29 )
Maka setiap apa yang ada di muka bumi ini pada asalnya adalah boleh sehingga ada dalil yang melarangnya.
4.      Istishab al-Washfi
Dipahami dengan menetapkan sifat asal pada sesuatu, seperti tetapnya sifat hidup bagi orang hilang sehingga ada dalil yang menunjukan bahwa dia telah meninggal, dan tetapnya sifat suci bagi air selama belum ada najis yang merubahnya baik itu warna,rasa atau baunya.

2.4 Kehujjahan Istishab
Dalam masalah penetapan hukum Istishab merupakan akhir dalil Syar’i yang menjadi tempat kembali seorang mujtahid untuk mengetahui hukum sesuatu yang dihadapkan kepadanya.Maka para ahlili Ushul Fiqih berkata: “Sesungguhnya Istishab merupakan akhhir tempat beredarnya fatwa. Ia adalah penetapan hukum terhadap sesuatu dengan hukum yang telah tetap baginya, sepanjang tidak ada dalil yang merubahnya.”



Berdasarkan istishab ini, beberapa prinsip syara' dibangun antara lain:
  • الاصل بقاء ماكان على ماكان حتى يثبت ما يفيره
”pada asalnya segala sesuatu itu tetap (hukumnya) berdasarkan ketentuan yang telah ada sehingga ada dalil yang merubahnya.”
  • الاصل في الاشياء الا باحة
“pada asalnya hukum segala sesuatu itu boleh.”          
  • الاصل في الانسان البراءة
“manusia pada asalnya adalah bebas dari beban.”
  • بالشك ولايزول الابيقين مثله ما ثبت باليقين لايزول
“apa yang telah ditetapkan dengan yakin, maka ia tidak bisa gugur karena keraguan. Ia tidak bisa gugur kecuali dengan yakin juga.”
Maka orang yang yakin bahwa ia masih mempunyai wudhu’ dan ragu-ragu jika dirinya telah batal, maka ia dihukum masih mempunyai wudhu’, dan shalatnya sah. Hal demikian berbeda dengan pendapat ulama dari golongan Malikiyah yang berpedapat wajib berwudhu’ lagi. Sebab, menurut mereka tanggung jawab (beban)nya adalah menjalankan shalat dengan penuh keyakinan. Karena tanggung jawab tersebut tidak lepas kecuali dengan mengerjakan shalat dengan benar dan penuh keyakinan. Dan hal itu harus dilakukan dengan wudhu’ agar tidak diragukan kebatalannya.
 2.5 Dalil-dalil Aplikasi Istishab
Dalil Naqli :
·         Al-Quran
Ayat yang digunakan dalam aplikasi istishab yaitu dengan memperhatikan (istiqra) ayat-ayat yang menjelaskan tentang hukum syara dan itu tetap selama tidak ada dalil yang merubahnya.Seperti haramnya alkohol di tetapkan oleh al-quran yang menjelaskan haramnya khomer, apabila sudah berubah sifatnya menjadi cuka maka itu tidak haram lagi karena sudah hilang sifat memabukannya.
ö@è% ô`tB tP§ym spoYƒÎ «!$# ûÓÉL©9$# ylt÷zr& ¾ÍnÏŠ$t7ÏèÏ9 ÏM»t6Íh©Ü9$#ur z`ÏB É-øÌh9$# 4 ö@è% }Ïd tûïÏ%©#Ï9 (#qãZtB#uä Îû Ío4quŠysø9$# $u÷R9$# Zp|ÁÏ9%s{ tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 3 y7Ï9ºxx. ã@Å_ÁxÿçR ÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqçHs>ôètƒ ÇÌËÈ  
”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) arak, berjudi, ( berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan”. (QS. 5 : 90)
·         As-Sunnah
Dari Abi Hurairah Rasulullah Saw. Bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu merasakan sesuatu diperutnya maka dia ragu apakah keluar sesuatu atau tidak, maka janganlah keluar meninggalkan mesjid sehingga terdengar suara, atau keluar angin. (HR. Muslim)
Dalil ‘Aqli :
·         Secara naluriah akal
Kita bisa menghukumi segala sesuatu boleh atau tidak, ada dan tiada dengan melihat pada asal mulanya. selama belum ada dalil yang mengingkari sebaliknya, maka itu tetap di hukumi seperti asalnya, seperti bahwa manusia terlahir kedunia ini selamanya di sifati hidup selama belum ada bukti yang jelas bahwa dia sudah meninggal.

2.6 Perbedaan pendapat tentang istishab menurut ahli ushul
Para ahli ushul terbagi menjadi beberapa madzhab madzhab :
1.      Jumhur diantaranya : malikiyyah, hanabilah, sebagian besar syafi’iyyah, dan sebagian hanafiyyah. Berpendapat bahwa istishhab sebagai hujjah secara mutlaq baik itu nafyi atau itsbat.
2.      sebagian syafi’iyyah, sebagian besar hanabilah dan mutakallimin seperti husein al-Bishri. Mereka berpendapat bahwa istishhab bukan hujjah secara mutlak baik itu dalam nafyi atau itsbat.
3.      al-Baqalani berpendapat bahwa istishhab itu hujjah bagi mujtahid akan tetapi tidak boleh digunakan dalam perkara yang di perdebatkan.
4.      Abu Ishaq menukil dari Imam Syafi’I berpendapat bahwa istishhab hanya boleh dijadikan sebagai penguat dari dalil saja tidak untuk yang lainnya.

BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat kita ketahu pengertian Istishab menurut bahasa Arab ialah : pengakuan adanya perhubungan. Sedangkan menurut para ahli ushul fiqh, ia adalah : Menetapkan hukum atas sesuatu berdasarkan keadaan sebelumnya, sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahan keadaan tersebut. Atau ia adalah menetapkan hukum yang telah tetap pada masa lalu dan masih tetap pada keadaannya itu, sehingga ada dalil yang menunjukkan atas perubahannya.
Dari uraian-uraian tentang Istishhab di atas maka penyusun berpendapat bahwa istishhab bisa di jadikan sebagai salah satu methode dalam mencari sebuah hukum setelah merujuk terlebih dahulu pada al-quran, as-sunnah, maka jika tidak ada dalil yang menunjukan secara detail maka methode ishtishhab bisa di lakukan.




















DAFTAR PUSTAKA
Khalaf, Abdul Wahab. Ilmu ushul fiqh. Bandung: Gema Risalah Press. 1996.
Khalaf, Abdul Wahab. Ilmu ushul fiqh. Semarang: Dina Utama Semarang.1994
 Syafe’i, Rahmat, Ilmu Usul Fiqih untuk UIN, STAIN, PTASIS, Bandung: Pustaka Setia, 1998.



Tidak ada komentar: